Showing posts with label catatan biasa. Show all posts
Showing posts with label catatan biasa. Show all posts

Saturday, October 4, 2014

Apa Arti Gowes ??? Ini dia penjelasannya, bro!

Alhamdulillah, sekarang saya mulai terbiasa dengan gowes. Pergi dan pulang ke kantor tetap bersama sepeda pancal yang kubeli dari hasil blogging. Hehehehe

Belum ada pengalaman apa-apa yang bisa kubagikan untuk para pengunjung orangbiasaji.net kecuali peluh dan pegal di persendian dan otot paha. Pelan-pelan tubuhku beradaptasi dengan niatku untuk bersepeda.

Nah, ngomong-ngomong soal gowes, mungkin ada kawan pembaca orangbiasaji.net yang masih bingung apa arti gowes yang sebenarnya. Biasanya sih gowes diartikan bersepeda, sebatas itu saja. Namun, ternyata ada berbagai arti untuk istilah gowes yang sangat akrab di kalangan para pesepeda. Mau tau apa aja? ayoo kita gowess bro... hehehe

gowes yuk broo pacu sepedanya !!!

Apa Arti Kata Gowes?

Gowes diartikan aktivitas mengayuh pedal pada sepeda. Orang jaman sekarang lebih banyak menyebut kata gowes daripada mengayuh, mungkin dikarenakan lebih enak didengar, lebih gaul dan terkesan bersemangat.

Darimana asal kata Gowes ?

Sebagaimana trit yang saya kutip di kaskus.co.id, si TS katanya lagi iseng-iseng googling untuk mencari tahu dari mana asal kata gowes dan apa arti sebenarnya. Ternyata, baik di Wikipedia maupun Kamus Bahasa Indonesia Online tidak mengenal kata itu.

Namun dari berbagai situs/ blog si TS akhirnya mendapatkan pencerahan tentang istilah Gowes seperti ini :

1. Gowes adalah Bahasa gaul yang dipopulerkan oleh Indra Bekti dan Indie Barens. (ternyata bukan. Gowes adalah plesetan dari yowes yang sering diucapkan Indra Bekti dalam program acara Ceriwis di Trans TV).

2. Gowes itu artinya genjot ora genjot wis teles, bahasa Indonesianya dikayuh atau tidak dikayuh badannya basah.

3. Gowes Artinya pergi ke barat (go west).

4. Gowes dalam istilah bahasa Jawa yang artinya : "goblok gak uwes-uwes" (goblok nggak selesai-selesai, goblok terus-terusan.

5. Ada juga yang bilang gowes itu artinya mengayuh, alias mengayuh sepeda dalam bahasa Jawa yang artinya “mengayuh”.


Ada yang mau nambahin??? Silahkan dikomentarin yah :)

Ayo Kita Gowes ...
Read more

Wednesday, September 24, 2014

Secuil Kisah Malcom X; Sebuah Perubahan Besar akan Islam dan Rasialisme


Kawan, Mumpung bulan Haji...

inspiring story malcom x and islam

Taukah, bahwa pada tahun 1964, Malcom X datang ke Jeddah, Arab Saudi, untuk menunaikan rukun Islam kelima.

Kacaunya, kedatangan Malcom X disana sempat tertahan karena kewarganegaraan Amerikanya dan ketidak-mampuan berbahasa Arab yang mumpuni, Keislamannya diragukan.

Padahal, Malcom X adalah salah satu aktifis Nation of Islam (NoI), sebuah organisasi yang memperjuangkan rasialisme (?) karena menganggap orang-orang berkulit putih adalah "Setan" dan orang2 yang berkulit hitam lebih Unggul.

Ketenaran nama Malcom X diperolehnya saat aktif di NOI, walaupun kemudian ia keluar dari sana karena menganggap NOI sudah 'melampaui batas'.

Beruntung, halangan untuk melaksanakan ibadah haji bisa dilalui setelah keesokan harinya, Pangeran Faisal menyatakan bahwa ia diterima, bahkan sebagai tamu negara.

Nah, dalam 'perjalanan haji' itu. Apa yang diperjuangkan Malcom X saat masih bergabung dengan NOI mulai sirna dalam benaknya.

Ia melihat bagaimana umat Islam dari penjuru dunia, mereka yang berambut pirang, bermata biru, berkulit putih, hingga orang-orang berkulit hitam dari afrika, saling berinteraksi satu sama lain. Hal tersebut memberikannya pandangan baru bahwa ::

Islam dapat mengatasi masalah rasial.

Perubahan pandangan Malcom X diatas, hanyalah salah satu dari berbagai perubahan besar dalam dirinya. Banyak hal yang dialaminya selama hidup. Perubahan besar yang terjadi selama kurun kehidupannya.

Malcom X atau Malik el-Shabazz wafat di umur 39 tahun...

Sungguh, kisah Malcom X sangat asik kita ikuti, sayangnya tak ada lagi yang mau menyinggungnya. Hanya ada Spike Lee yang terdorong membuat film mengenai Malcom X yang diproduksi pada tahun 1992.
Read more

Thursday, September 18, 2014

Cari Pekerjaan atau Membuat Pekerjaan


berani berfikir beda


Beberapa hari yang lalu, karena alasan rindu, saya ngobrol dengan kawan lama melalui fasilitas chat facebook. Karena sudah lama tidak berkomunikasi, saya tetap mencoba untuk mengakrabkan diri sekaligus menaksir bagaimanakah kondisi kawanku ini setelah lama terpisah dariku.

Saya bersyukur karena dia ada kesibukan saat kutanyai soal apa yang dia lakukan di Makassar. Walaupun punya pekerjaan, dia masih tetap membahas soal kemungkinan untuk mendapatkan kesibukan baru. Ia menyinggung ide kami yang telah lama mengawang-awang, nyaris pudar. Yakni bisnis distribusi beras ke pelosok tenggara pulau Sulawesi.

Kawanku ini punya motivasi tinggi dan ide yang 'menakutkan', sayang ia tak mampu berbuat apa-apa jika hanya sendiri (Emang saya sendiri bisa??? hehehehe)

Setelah berbagai pembahasan berganti, kini kawanku bertanya, apakah saya punya pekerjaan untuk dia? Maksudnya apakah saya punya info atau jaringan yang membutuhkan tenaga untuknya.

Saya jawab singkat saja, bahwa saat ini saya masih ikut orang. Lalu kusarankan dia untuk melakukan pekerjaan kecil-kecilan saja sambil mencicil ide besarnya terwujud sempurna.

Kami masih terus bercakap sehabis pertanyaan itu, walaupun saya sudah tidak konsen lagi karena pengaruh pertanyaan tersebut.

Bukan saja kawanku yang satu ini yang menyinggung soal 'cari pekerjaan'. Banyak kawan-kawan lainnya yang memanfaatkan telingaku untuk sharing mengenai pekerjaan apa yang menarik, cocok untuk dirinya, atau bahkan pertanyaan ekstrim sekalipun, mau kerja apa ya?

Saya hanya tertawa saja, bagaimana mereka meminta saranku padahal saya ini bukanlah pekerja, saya menyebut diri saya sebagai "Professional jobless" yang walaupun nganggur, saya tetap bisa mendapatkan rejeki untuk membiayai hidupku dan keluarga. Alhamdulillah !!!

Di pikiran saya yang beberapa tahun ini agak kusut, saya tidak bisa membayangkan bagaimana diriku akan disibukkan oleh antrian dan menunggu panggilan untuk sebuah pekerjaan. Bayanganku, pekerjaan (yang menuntut untuk berpenampilan) paling rapi yang masuk akal bagiku adalah menjadi dosen. Namun, ide itu kayaknya sudah koyak oleh kesulitanku mengurus kepala sendiri (bagaimana mau mengurusi kepalanya anak orang).

Belakangan ini, saya hanya berfikir untuk bekerja saja, asal bekerja. Syukur jika pekerjaan saya ini bisa melibatkan banyak orang, bisa dimanfaatkan sebagai gantungan hidup. Bukan malah menggantungkan hidup pada orang lain dengan status 'pegawai'.

Padahal sudah banyak slogan, atau perang opini yang mengajak anak muda Indonesia untuk menjadi wirausahawan dibandingkan sebagai pegawai. Bahkan di media sosial, tak sedikit kawan yang membagikan berbagai banner dengan aneka tulisan, salah-satu diantaranya "Kalau bisa menjadi bos, ngapain jadi anak buah"

"Walaupun kaki lima, asal berdiri di atas kaki sendiri"

Malam itu, setelah bercakap dengan kawanku, terbersit dalam pikiranku mengenai ide-ide kemandirian. Cara berfikir mencari kerja seharusnya didaur ulang menjadi membuat lapangan pekerjaan.

Mahasiswa-mahasiswa yang baru saja menyelesaikan pesta kelulusan, seharusnya tidak berfikir untuk mencari kerja, melainkan membuat lapangan pekerjaan untuk mereka yang tidak berhasil melaksanakan pesta atau syukuran wisuda (seperti saya... hahahaha).

Oia, ada satu muhasabah yang dulu sempat mampir di kepalaku.
Kala itu, kondisi keuangan keluargaku sangat kritis, tak tersisa sepeserpun di rumah, bahkan daftar kawan yang bisa dijadikan tumpuan hutang pun sudah tak tersisa. Kami hanya mengharapkan makan dari acara tahlilan demi tahlilan (Alhamdulillah, saya bersyukur hidup diantara ahli tahlil)

Lalu saat kulihat beberapa botol plastik berhamburan di jalan, saya pun berfikir untuk mengumpulkannya dan menjualnya. Ini ide yang menarik bagiku, tak perlu modal untuk menjadi pemulung (toh, waktu kecil saya sudah terbiasa mengumpulkan barang-barang bekas alias memulung). Setidaknya, saya bisa mendapatkan banyak botol plastik dari kampus, selain itu saya bisa memanfaatkan jaringan teman-teman untuk menyimpan botol plastik di kosan mereka masing-masing untuk saya, setidaknya botol plastik sisa pemakaian mereka sendiri.

Ahhh, setidaknya saya bisa mendapatkan 15.000 per hari dari rutinitas yang begini. Sungguh luarbiasa !!!

Sayangnya, belum sempat kuambil satu botol plastik bekas untuk merealisasikan ideku, di dalam diriku sudah ada penolakan, JANGAN !!!

Sisakan botol-botol plastik itu untuk mereka yang tidak punya skill dan pengetahuan memadai untuk melakukan pekerjaan yang lebih bagus.

Untuk apa saya punya 5 buku teori karya ilmuan terkenal di rumah, jika saya hanya bisa 'mengambil kesempatan kerja' orang lain ???

Wajahku masam mendapatkan penolakan keras dalam diriku itu. "Padahal ini ide yang cukup bagus" Kataku dalam hati sambil terbahak sendiri...

Kini, saya ingin betul-betul membiasakan diri saya berfikir untuk membuat pekerjaan, bukan mencari pekerjaan.

Membiasakan diri membuat target "Sudah berapa banyak karyawan yang kupunya". Bukan lagi "sudah sebesar apa gaji yang kuterima".

Membiasakan diri hidup dengan "Sudah berapa anak yatim yang tinggal di rumah??". Bukan lagi "Sudah berapa mobil mewah yang terparkir di rumah".



Kawan!!! Bantu saya untuk selalu mengingat ini.
Bukan malah sibuk bertanya, "Kapan lulus kuliah???"
Read more

Friday, May 9, 2014

Sepuluh Mei Kali Ini

Hal besar yang terlintas di kepalaku pada hari ini adalah membuat keputusan dan aku harus berani menampilkan diriku.

Aku terjaga pada peralihan hari. Saat sampai pada hari ini, dua hal di atas adalah apa yang terlintas di kepalaku dan memaksa menjadi sebuah resolusi. Aku makin menua dan pada titik ini aku betul-betul butuh mengambil satu keputusan besar dan membuat garis pembatas antara 'inilah' aku puluhan tahun yang lalu dan 'akulah' aku beberapa waktu selanjutnya, entah tersisa berapa hari.

Kemarin aku kehilangan kepercayaan diriku, sampai saat ini. Aku sangat membutuhkannya kembali. Aku bergantung padanya.

Walau aku bodoh, memalukan dan tidak diharapkan, aku tetap harus hidup, menghabiskan sisa waktuku. Aku tak mau menghabiskannya dengan terus terjebak pada penjara alam pikirku. Biarlah aku jadi sosok yang begitu memalukan, tak layak, tak diharapkan, pada akhirnya kita masih punya hari esok untuk menebusnya.

Kalian yang mengenalku dan sempat membaca catatanku ini, aku memohon maaf untuk tahun-tahun yang lalu (Aku tak ingin menghadapi kalian dan memohon maaf - semoga catatan ini cukup). Aku melaluinya dengan berat beberapa tahun terakhir ini. Sungguh aku memohon maaf.

Lalu, besok-besok semoga kalian dapat mendukungku untuk bangkit kembali melunasi hutang umur yang kemarin sempat kusia-siakan. Ada cita-cita yang mesti kukejar, kawan.

Akhirnya, aku memang pecundang. Tapi bagi sang cita-cita itu bukan hal yang penting. Sang cita-cita hanya mengenal 'terwujud' atau 'terendap' di angan-angan.

Bismillahirrahmanirrahiem ...
Read more

Tuesday, May 6, 2014

Aku Ingin Mati, tapi Tidak dengan Bunuh Diri


Aku ingin mati, tapi tidak dengan bunuh diri”. Ia mengatakannya dengan sedikit berbisik. Ternyata bukan hanya aku yang punya pikiran untuk mati dalam waktu dekat, kami berdua memiliki pikiran yang sama. Andaikan aku tidak takut iming-iming neraka untuk mereka yang gagal melawan dorongan untuk bunuh diri, aku sudah tidak disini menulis catatan ini.

Padahal jika aku berhitung, aku akan tetap berhadapan dengan neraka walaupun tidak bunuh diri. Hahahahaha

Aku bertanya padanya, “Apakah kau punya cita-cita?” Ia menghela nafas dan berkata bahwa ia memilikinya. Bahkan ia memiliki banyak cita-cita. Jawabannya itu diluar dari apa yang kuduga, kukira dia tak memiliki cita-cita sedikitpun.

Ia ingin membangun sekolah. Ia juga ingin mengajak anak-anaknya untuk berkeliling dunia. Aku tak peduli dengan cita-cita tersebut.

“Hiduplah untuk cita-cita itu”, kataku. Tadi setelah mengungkapkan keinginannya untuk mati, ia menuntut padaku, “Sebenarnya untuk apa aku hidup? Kenapa aku mesti dilahirkan?” Ia mengungkapkan perasaannya dengan sedikit emosional, suaranya lirih ditengahi isak. Bukankah percuma kita hidup jika ujung-ujungnya kita hanya dihadapkan pada neraka atau surga?

Aku tak menjawab tuntutannya, emoh aku menjawab itu dengan dalil agama atau merespon pertanyaan yang kekanak-kanakan itu. Alih-alih berusaha menjadi penyeimbang untuk kebimbangannya, aku malah ditarik masuk pada ruang rasa dan terjerembab dalam kebimbangannya akan kehidupan. “Duh, bagaimana ini”, kataku dalam hati. Untuk apa sebenarnya kami hidup?

Katanya, kehidupan kami bak lingkaran setan: Tidur, makan, kerja/belajar, mengurusi anak, bersih-bersih rumah, hiburan. Siklus ini berlangsung setiap hari, mungkin anak-anak kami juga akan meneruskan perputaran kehidupan dalam lingkaran setan ini.

Aku melenguh, menatap langit-langit kamar kami yang kecil, lalu kupalingkan pandanganku pada ubun-ubun istriku. Kutatap matanya yang menatap kosong ruang kamar. “Cerita apa yang kau buat untukku, Tuhan?”.

Aku berkata, aku hampir putus asa. Berkata begitu, aku tiba-tiba ingat berita-berita terkait bunuh diri yang marak di Jepang. Bahkan disana ada hutan yang berstatus FAVORIT untuk melakukan bunuh diri, Aokigahara.

“Kita butuh psikolog”, katanya.

“Yang kubutuhkan hanya mengurangi sedikit beban fikiranku, aku butuh fikiran yang baik dan menyusun peta masalah lalu menentukan jalan keluarnya”.

Jiwaku baik-baik saja. Rasanya demikian. Fikiranku saja yang kurang kuat mengolah ‘data-data’ kehidupan dan menguraikannya menjadi kehidupan. Aku butuh sedikit kebebasan, dengan begitu aku bisa meluangkan waktu untuk mengenali kembali siapa diriku yang sebenarnya (kedengaran terlalu kekanak-kanakan kan?).

Kami sempat tertawa, menertawakan diri kami, “Astaga, bahkan laptop dan barang-barang yang kami butuhkan juga rusak, telur sisa empat butir dan sabun mandi sudah tipis”.

Hahahahaha, ada juga sisi lucu dalam kekalutan.

Dengan tawa itu, kami nyaris lupa dengan kematian.

Kami menutup tawa dengan helaan nafas. “Hiduplah untuk cita-citamu”, kataku. Hal itu mungkin memotivasinya, setidaknya memberinya sedikit cara berfikir yang lain: Melampiaskan semuanya pada (mengejar) cita-cita. Tapi aku tidak yakin betul bahwa dia termotivasi, mungkin saranku itu masuk akal baginya, tertanam dalam benaknya, namun semuanya mendadak buyar ketika mengingat apa yang akan kami lakukan besok, bangun, mengurusi rumah, mengurusi anak, bekerja/belajar, hiburan.

Mengingat itu, rasanya cita-cita kami hanya berjarak sejengkal dari kami, tapi kami tak kuasa menggapainya karena terbawa arus perputaran lingkaran setan. Aku pernah mengeluhkan masalah-masalahku pada tuhan, saat itu rasanya tuhan berbisik dengan indah padaku: uruslah masalahmu sendiri.

Sebenarnya apa masalahnya?



Oia, ditengah keluhan istriku yang menolak untuk dilahirkan, aku bertanya padanya, “Bagaimana jika kau dilahirkan sebagai orang kaya? Maukah kau mati?”.

“Entahlah!”, katanya sambil melenguh, menyesali keinginannya untuk mati. “Mungin dengan kekayaan, kita hanya akan mendapatkan masalah yang jenisnya berbeda, polanya mungkin sama saja: kebingungan (mengurusi kekayaan)!”, pikirnya kemudian.

“Demikianlah garis hidup kita, yang kita jalani ini”, kataku dalam hati, kata-kata itu bak lilin dalam diriku. Aku punya cerita kehidupan sendiri, baik atau buruknya kisah itu, setidaknya aku ingin tahu akan bermuara dimana.


Aku butuh keberanian yang besar untuk memutar biduk dan kembali ke pantai, ingkar dari samudra yang dibentuk oleh orang tua. Kalaupun aku harus jadi pelaut, aku tak ingin berhadapan dengan ombak dan buih. Aku ingin menjadi pelaut yang menantang daratan. MELAWAN ARUS !!!

beranikah melawan arus?

Read more

Friday, April 11, 2014

Mendidik dengan Telinga


mendidik dengan telinga
Mendidik dengan telinga; Maksunya bukan begini, Hahaha
Saya tidak tahu apakah istilah 'mendidik dengan telinga' sebelumnya dipopulerkan oleh siapa, atau pernah populer pada suatu masa yang mana, istilah tersebut secara spontan terbangun di benak saya dan seketika itu pula kusampaikan melalui dinding Facebook. Mendidik dengan telinga? saya sendiri pun masih bingung kenapa bisa ungkapan ini datang di benakku.

Ingin kuceritakan kisah, kawan. Saya teringat kembali kejadian di masa silam ini, tak sengaja, ketika kutanya pada adikku melalui pesan singkat, dimana ia berada. Katanya ia sedang bersama dengan kawannya yang dulu berkawan denganku, bahkan hingga saat ini, walaupun rasanya hubungan kami agak renggang belakangan ini, maklum terpisah jarak membuat komunikasi terbatas. Padahal secara teknis tidak ada batas komunikasi di jaman sekarang.

Spontan saya terkenang masa-masa awal berkenalan dengan dia.

Kala itu, saya masih remaja belia yang mencoba menjadi diri sendiri, berdiri di atas akal pikiran sendiri. Anggap saja kecerdasan kinestetikku tidak menyebar ke seluruh bagian tubuh melainkan terpusat di lidah/lisan, sehingga saya cukup payah dalam olahraga, namun termasuk luarbiasa dalam bersilat lidah.

Konsentrasi kecerdasan kinestetik di lidah/lisan, membuatku tidak sabaran dalam mengelolah informasi di otak, jadi tak heran jika pada kala itu saya agak emosional atau tergesa-gesa dalam menyampaikan pendapat, apalagi menurutku itu hebat.

Sebuah penelitian menyebutkan [lupa katanya siapa, dikonfirmasi saja, kawan] bahwa kecerdasan seseorang berkembang pesat di masa remaja, artinya inilah masa dimana semua perangkat kecerdasan bekerja dengan hebat.

Bagi kawan yang piawai dalam menulis, di saat remaja, pena dan kertas mungkin jadi objek pelampiasan atas bergejolaknya kecerdasan. Namun, bagaimana dengan saya yang kala itu mulut saya sangat 'gatal' untuk melisankan akal.

Beruntung dalam garis hidupku, ada seorang kawan hadir disana, dia datang membawa telinga, tidak sepasang telinga, tetapi sepasang telingan plus seonggok kerelaan di hati yang dengan ikhlas menerima semua kata-kataku apa adanya, salah benarnya ia tanggapi dengan manusiawi.

Kawan, seperti kayu yang membutuhkan api untuk menjadikannya bara, demikian pula dengan mulut, ia membutuhkan telinga untuk menjadi senjata, dimana kata adalah pelornya. Berbicara atau menyampaikan pendapat sangatlah penting, kawan! ia menuntut si empunya mulut untuk memiliki urat yang baik, yang menghubungkan otak dan mulutnya.

Saat ia mendengarkan ocehanku, apakah kawanku ini hanya sekedar mendengarkan dan menanggapinya sebagaimana layaknya? tanpa mendidik?.

Mungkin kawan-kawan masih ingat salah satu adegan pada bab awal dalam 'Totto-chan'. Ketika Totto-chan dikeluarkan dari sekolahnya karena mengidap 'penyakit' kecerdasan yang aneh, ia dibawa oleh ibunya ke sebuah sekolah yang unik, Tomoe Gakuen namanya.

Di calon sekolah Totto-chan yang baru itu, dia dibawa ibunya menghadap ke Kepala sekolah, lalu saat kepala sekolah menyambut dan mempersilahkan ibu Totto-chan pulang, sang Kepala sekolah mengambil kursi dan duduk berhadapan langsung dengan Totto-chan. "Sekarang, ceritakan semua tentang dirimu. Ceritakan semua dan apa saja yang ingin kau katakan", kata sang Kepala sekolah.

Totto-chan pun bercerita banyak hal, panjang lebar, hingga ia kehabisan bahan cerita. Melihat Totto-chan kesulitan seperti itu, sang Kepala sekolah menimpali, "Tak ada lagi yang ingin kauceritakan?".

Totto-chan memutar otak, "Ini kesempatan yang bagus sekali", katanya dalam hati. Totto-chan kembali beraksi, menceritakan apa saja, hal remeh-temeh sekalipun, sang Kepala sekolah terus mendengarkan dengan penuh perhatian bahkan sesekali terpesona. Totto-chan menguras habis ceritanya, jarang ada kesempatan emas seperti ini, dimana ada orang yang ingin mendengarkan dengan tulus sebuah cerita yang tidak inspiratif, sebuah cerita biasa saja.

Totto-chan kehabisa cerita, tandas, padahal ia masih ingin bercerita. Karena ia tak lagi punya sesuatu yang bisa ia ceritakan kepada sang Kepala sekolah, ia tampak sedih. Sang Kepala sekolah mengatahui kesedihan Totto-chan, lalu menghiburnya dengan kata-kata, "Nah, sekarang kau murid sekolah ini".

Wahai, kawan! Bukan hanya Totto-chan merasa bahagia karena ia berfikir telah bertemu dengan orang yang benar-benar disukainya. Saya sendiri pun sangat senang, walaupun hanya pembaca cerita tersebut.

Selanjutnya, Totto-chan dan saya mulai merasa percaya diri setelah bertemu dengan orang yang ingin mendengarkan.

Kau tau apa akibat dari datangnya kepercayaan diri itu? Keberanian!

Dalam pendidikan, mentalitas berani sangat dibutuhkan, setidaknya saya sangat membutuhkannya, tidak hanya sekedar kedisiplinan, kesiapan otak menerima informasi dan mengolahnya lalu mereproduksinya dalam lembar ujian.

Saat itu, saya sangat pas dengan diriku, saya tak pernah malu dicerca ini-itu, alasannya karena saya memiliki kepercayaan diri, saya yakin bahwa inilah diri saya.

Kini, aku lebih sering bungkam, ada banyak teman dan sahabat di sekitarku, tapi tidak ada yang ingin membawakan telinga untukku. Parahnya, kepercayaan diri merosot.

Kawan, sudah sejak dulu kita anggap mendidik itu adalah urusan mulut dan tangan, berbicara dan menunjukkan. Orang yang lebih tahu memahamkan dan menasihati si fulan jika kurang paham atau khilaf. Orang yang lebih kuat menunjukkan dan melerai si fulan jika tidak kuasa atau ingkar.

Lalu telinga kita hanya dimanfaatkan untuk menerima. Apa adanya!

Sudah sejak dulu, kawan!
Read more

Saturday, March 15, 2014

Sebenarnya, Apa yang Diinginkan Golput?

golput


Ada banyak status di media sosial yang meributkan soal golput, mereka yang berkepentingan mengajak sebanyak-banyak orang untuk tidak golput dan memilih diri mereka atau sosok yang mereka sukai. Sebaliknya, mengumbar omong kosong untuk golput saja. Malas mikir, tak mau pusing terlibat dalam omong kosong politik yang hanya jadi podium untuk mengumbar janji.

Sebenarnya sosok seperti apa yang dielukan oleh kawan-kawan yang mendeklarasikan diri sebagai penganut golput? Adakah sosok yang demikian, kawan?

Baiklah, mari anggap ada sosok sempurna untuk jadi pemimpin, sosok yang ideal dan pantas menjadi  presiden misalnya. Siapakah dia? apakah mencalonkan diri menjadi calon presiden? atau namanya tidak muncul karena tidak berhasil lepas dari belenggu sistem politik kita yang 'sesuatu' ???

Seperti itukah calon pemimpin yang diidealkan, kawan? pemimpin yang tidak bisa memerdekakan dirinya dari jeruji sistem politik kita yang tercemar? Bagaimana nantinya dia akan memerdekakan golongan putih dari jeruji keputihan sehingga ia dapat membuat orang-orang menjadi leebih berwarna?

Omong kosong macam apa itu?

Atau apakah kawan-kawan golput ini menunggu Umar bin Khattab hidup kembali dari kubur? Atau Abu Bakar As-Siddiq, atau malah Nabi Muhammad ?

Mengerikan, kawan. Sangat mengerikan jika virus golput semakin akut. dari pemilu kemarin kita sudah tau bagaimana kehebatan golput, bahkan bisa diperkirakan bahwa pemilu 2014 ini, golputlah yang akan menang. Mengerikan bukan?

Apa jadinya jika manusia Indonesia putus asa atas tokoh-tokoh bangsa yang hadir sebagai calon pemimpin tertinggi, dan semuanya memutuskan untuk pasrah saja atas hasil pemilihan. Semuanya menjadi golongan putih. Apa jadinya kawan?

Kalau memang membubarkan diri sebagai bangsa dan negara adalah satu jalan keluar untuk hidup tentram, sejahtra dan adil, saya juga tentu ingin ikut dalam bus golput.


Read more